Sabtu, 17 Juli 2010

MEMELIHARA HATI

Sang murid harus memelihara hatinya dari rasa was-was, dan cita-cita kosong dengan lantaran pikiran yang kotor dan angan-angan panjang. Pintu hatinya harus dibentengi dengan dinding tebal untuk mengawasi sesuatu yang datang dan menghampirinya. Sebab jika dimasuki oleh gejala-gejala di atas, niscaya akan rusak hatinya apabila hati itu rusak menjadi sukarlah untuk menghilangkan penyakit yang berlapis-lapis. Lantaran itu sang murid harus senantiasa membersihkan hatinya menjadi tempat ilham Tuhan. Supaya hati itu tidak cenderung pada tuntutan hawa nafsu dan syahwat keduniaan.
 
Sang murid harus memelihara hatinya dari sifat-sifat dendam kesumat, hasad dan dengki serta berprasangka jelek terhadap kaum muslimin. Jangan sekali-kali mempunyai sangkaan buruk terhadap siapapun. Bahkan hati itu seharusnya dipimpin untuk menjadi penasehat kaum Muslimin, bersifatlah pengasih dan penyayang serta senantiasa berprasangka baik kepada semua orang. Segala kebaikan untuk dirimu, juga harus disukai orang lain, begitupun sebaliknya segala keburukan yang dibenci untuk dirimu, harus pula dibenci oleh orang lain.
 
Sang murid harus mengetahui pula bahwa hati itu mempunyai berbagai jenis penyakit yang paling berat, lebih buruk dan lebih tidak sesuai untuk menerima ma 'rifatullah (pengenalan Allah) dan kecintaan-Nya; melainkan setelah ia membersihkan dari segala penyakit-penyakit hati yang sangat membahayakan ialah sifat-sifat membesarkan diri, membanggakan diri, sombong atau pamer dan hasud atau dengki.
 
Sifat membesarkan diri itu menandakan orang yang kurang akalnya, jahil dan bodoh. Bagaimana boleh membesarkan diri, sedangkan ia tahu bahwa dirinya dicipta dari setetes air yang kotor, dan tidak berapa lama hidup di dunia sesudahnya ia akan mati dimakan cacing tanah, badannya menjadi bangkai yang membusuk. Jika ia merasakan dirinya tampan/cantik dan hidupnya senang dalam kemewahan, bukankah itu semua ciptaan dan kemurahan Tu­han, yang mana engkau tiada kuasa sama sekali dalam kodratmu, tidak mempunyai kekuatan dan daya untuk mendapatkan tanpa takdir Tuhan, tidaklah merasa khawatir dan bimbang, jika ia berbangga diri terhadap hamba-hamba Allah dengan apa yang telah dikaruniakan Allah padanya dari kelebihan-Nya. Kelak Allah merampas semua karunia-Nya disebabkan kelakuannya yang buruk dan mencoba menandingi Allah dalam sifat kibriya'Nya. Bukankah sifat kebesaran itu mutlak merupakan sifat Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi.
 
Sifat Riya', menunjukkan orang yang hatinya kosong dari sifat suka membesarkan Allah dan yang suka mengagungkan Allah. Sebab semua amalnya pura-pura yang berkepentingan untuk menunjuk-nunjukkan kepada orang banyak. Apakah dia kurang puas bahwa amal yang dikerjakan itu hanya diketahui Tuhan Rabbul Alamin saja.
 
Orang yang beramal shaleh sedang ia ingin amalan-nya diketahui orang banyak, supaya ia mendapatkan nama dan penghargaan atau mendapatkan balasan anugerah, maka orang itu sudah melakukan riya', jahil dan mengejar dunia. Sebab seorang yang zahid tidak mau menjual amal akhiratnya dengan dunianya, walaupun semua orang datang untuk memberinya penghormatan dan mencurahkan harta kekayaan, namun ia tetap menolak dan membencinya. Akan tetapi amal seorang yang riya' memancing dunia de­ngan amal akheratnya yang menjadi umpan. Sungguh tidak ada orang yang lebih jahil dari orang ini.
 
Jika ada orang yang tidak mau berzuhud di dunia ini, maka seharusnya ia mencari dunia dari pemilik dunia, yaitu Allah SWT. Sebab hati manusia berada di dalam genggaman Tuhan. Dialah saja yang menggerakkan hati manusia menurut kehendak-Nya untuk membantu siapapun yang menujukan harapan kepada-Nya.
 
Adapun Sifat Hasad, maka ia sudah jelas menentang kekuasaan Allah Ta'ala dan menentang kodratNya dalam kerajaanNya. Sebab jika Allah SWT menganugerahkan nikmat-Nya ketengah-tengah hambaNya, tentulah tidak syak lagi, Dia berkehendak demikian, memilih sesukanya dan tidak sama sekali terpaksa untuk melakukanNya. Lain dengan seorang hamba memilih sesuatu yang bertentangan dengan yang dipilih majikannya haruslah ia mendapat kemurkaan.
 
Adakalanya hasad dan dengki, berlaku dalam segala urusan dunia, seperti mencari pangkat, mengejar harta kekayaan. Padahal pangkat dan harta kekayaan tersebut adalah lebih kecil dan hina, dari pada kedengkian. Seharusnya anda merasa kasihan terhadap orang yang ditimpa bencana menda­pat pangkat dan harta kekayaan. Seharusnya anda berterima kasih kepada Allah yang telah menyelamatkan anda daripadanya.
 
Adapun hasad dan dengki berlaku juga pada urusan-urusan akhirat seperti dalam mencari ilmu dan berlomba berbuat kebaikan Tiada baik seseorang murid memendam rasa dengki terhadap saingannya. Seharusnya ia merasa bahagia dengan adanya kemajuan akan saingannya. Seorang mukmin akan menjadi lebih baik dari rekan-rekannya. Sang murid harus mencintai saudaranya didalam hati serta berusaha menciptakan Ukhuwah Islamiah. Serta berlomba-lomba dalam mentaati-Nya dan ia tidak merasa apakah orang-orang itu melebihi mereka. Sebab semua rizki karunia dari Allah SWT dan hanya Dia saja yang boleh mengkhususkan RahmatNya kepada siapa yang Dia sukai.
 
Didalam hati banyak terdapat berbagai macam akhlak yang tercela, kami tidak dapat menyebutkan satu persatu dalam buku ini, agar tidak terlalu panjang, kami telah mengingatkan anda tentang pokok penyakitnya, atau ubi dan akarnya yaitu cinta pada dunia. Cinta Dunia adalah pokok dari segala bencana sebagaimana yang dinyatakan dalam sebuah hadist Rasulullah SAW :
Jika hati selamat dari penyakit cinta dunia, niscaya ia menjadi putih dan bersih, baik dan bercahaya. Maka sesuailah ia untuk menerima cahaya dari Allah SWT dan mudahlah baginya untuk menyingkap rahasia-rahasia yang diberitahu Tuhannya.


[Risalatul Murid, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar