Sabtu, 17 Juli 2010

UJIAN HIDUP MISKIN

 
Adakalanya seorang murid itu diuji dengan kemiskinan, kepapaan dan kesempitan (kesulitan) dalam kehidupan. Maka hendaklah ia bersyukur pada Allah Ta'ala, disebabkan hal tersebut diatas dan harus beranggapan bahwa takdir Allah Ta'ala menjadikan anda miskin, papa dan sempit (susah), jadikanlah sebagai sebesar-besamya kenikmatan, sebab dunia musuh Allah. Dia tidak menggembirakan dengan keindahan dunia, dan melindungi Auliya'-Nya dari padanya. 

Anda harus bersyukur, maka Allah akan menyamakan anda dengan para Anbiya'Nya, para Auliya' dan hamba-hamba yang shaleh. Bukankah Nabi Muhammad SAW yang merupakan penghulu dari sekalian Rasul dan sebaik-baiknya makhluk Allah diatas muka bumi ini pernah mengikat batu diperutnya disebabkan lapar, adakalanya Beliau dua bulan berturut-turut atau lebih dapurnya tidak berasap untuk memasak makanan dan sebagainya. Nabi menerima dengan ridho memakan sedikit korma dan minum air sejuk saja.
 
Suatu ketika pernah terjadi ada seorang tamu datang ke rumah Nabi, maka Nabi memerintahkan orang menanyakan makanan ke rumah semua istrinya yang sembilan un­tuk menjamu tamu tadi, tetapi sayangnya tak ada sebuah rumah istri-istri nabi yang mempunyai makanan. Dan pada hari Nabi wafat, diketahui bahwa baju besinya tergadai pada seorang Yahudi, untuk membeli beberapa kilogram gandum, dan dirumahnya tidak mempunyai apa-apa yang dapat dijadikan makanan kecuali segenggam gandum. 

Renungkan wahai murid, ambillah dari dunia ini sekedar dari penutup auratmu dan sesuap buat makananmu dengan keluargamu untuk menutupi laparmu dengan syarat makananmu harus didapat dengan cara yang halal semata, awas waspadalah anda dari racun dunia yang akan membinasakan diri anda dan jangan terpengaruh dengan kenikmatan dunia sehingga nanti anda dipermainkan oleh syahwat dan berlanjut anda akan merasa dengki terhadap orang-orang yang diberi karunia Allah kenikmatan dan kelezatan, Sebab semuanya   akan   diminta   pertanggung  jawabannya   dari mana ia peroleh,  dan mereka bersenang-senang dengan syahwatnya. 

Andaikata anda tahu betapa beratnya pertanggung-jawaban yang mereka rasakan dan betapa berat dan besarnya tanggung jawab itu, yang akan mereka hadapi disamping menanggung duka dan nestapa. Dihatinya tidak ada ketenteraman. Dalam mengejar dunia dan berlomba-lomba  untuk  menumpuk-numpuk  harta  kekayaan   serta amat sayang untuk membelanjakan di jalan Allah. Semua itu akan menyebabkan mereka hidup susah dan berat dari apa yang mereka rasakan sebagai kenikmatan dan kele­zatan dunia apakah yang demikian itu dapat dikatakan ke­lezatan ?
 
Coba perhatikan Firman-Nya yang mencegah anda dari mencintai dunia dan menganjurkan anda hidup zuhud terhadapnya.
 
Dan kalau sekiranya manusia menjadl umat yang satu (semua gila kekayaan) niscaya Kami buatkan untuk orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan yang Pemurah. Atap rumahnya dan tangga tempat naik mereka semuanya dari perak dan pintu-pintu rumahnya dan dipan tempat tidurnya (dari perak juga) dan dibuatkan pula perhiasan-perhiasan emas, bahwa semua Itu hanyalah keindahan hidup di dunia, sedang akhirat nanti dijadikan oleh Tuhanmu untuk orang-orang yang bertaqwa. (OS. Az-Zukhruf 33-35).
 
Sabda Rasulullah SAW :
 
Dunia adalah penjara orang mukmin, dan surganya orang-orang kafir, sekiranya dunia dipandang berharga di sisi Allah, senilai sayap seekor lalat saja, niscaya Dia tidak akan memberi minum kepada orang-orang kafir seteguk air sekalipun.

[Risalatul Murid, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar